Latest Post

Aku Mencintai Majelisnya, Bolehkah?

aku mencintai majelis al khidmah, meskipun saya bukan lulusan pondok Al Fitrah Surabaya dan pondok yang lain
bolehkah aku mengenal beliau lebih dekat?
disini saya ambil dari sumber http://jamaahalkhidmahjombang.blogspot.com/
mengenai pendiri Al Khidmah
monggo...semoga bermanfaat

KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi merupakan putera dari Kyai Utsman Al-Ishaqi. Beliau mengasuh Pondok Pesantren Al-Fithrah Kedinding Surabaya. Kelurahan Kedinding Lor terletak di Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya. Di atas tanah kurang lebih 3 hektar berdiri Pondok Pesantren Al-Fithrah yang diasuh Kiai Ahmad Asrori, putra Kiai Utsman Al-Ishaqy. Nama Al-Ishaqy dinisbatkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena Kiai Utsman masih keturunan Sunan Giri.

Jika dirunut, Kiai Ahmad Asrori memiliki darah keturunan hingga Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang ke 38, yakni Ahmad Asrori putra Kiai Utsman Al Ishaqi. Namanya dinisbatkan pada Maulana Ishaq ayah Sunan Giri. Karena Kiai Utsman masih keturunan Sunan Giri. Kiai Utsman berputra 13 orang.

Berikut silsilahnya :
Ahmad Asrori Al Ishaqi – Muhammad Utsman – Surati – Abdullah – Mbah Deso – Mbah Jarangan – Ki Ageng Mas – Ki Panembahan Bagus – Ki Ageng Pangeran Sedeng Rana – Panembahan Agung Sido Mergi – Pangeran Kawis Guo – Fadlullah Sido Sunan Prapen – Ali Sumodiro – Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri – Maulana Ishaq – Ibrahim Al Akbar – Ali Nurul Alam – Barokat Zainul Alam – Jamaluddin Al Akbar Al Husain – Ahmad Syah Jalalul Amri – Abdullah Khan – Abdul Malik – Alawi – Muhammad Shohib Mirbath – Ali Kholi’ Qasam – Alawi – Muhammad – Alawi – Ubaidillah – Ahmad Al Muhajir – Isa An Naqib Ar Rumi – Muhammad An Naqib – Ali Al Uraidli – Ja’far As Shodiq – Muhammad Al Baqir – Ali Zainal Abidin – Hussain Bin Ali – Ali Bin Abi Thalib / Fathimah Binti Rasulullah SAW.

Semasa hidup, Kiai Utsman adalah mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dalam dunia Islam, tarekat Naqsyabandiyah dikenal sebagai tarekat yang penting dan memiliki penyebaran paling luas; cabang-cabangnya bisa ditemukan di banyak negeri antara Yugoslavia dan Mesir di belahan barat serta Indonesia dan Cina di belahan timur. Sepeninggal Kiai Utsman tahun 1984, atas penunjukan langsung Kiai Utsman, Kiai Ahmad Asrori meneruskan kedudukan mursyid ayahnya. Ketokohan Kiai Asrori berawal dari sini.

Konon, almarhum KH. Utsman adalah salah satu murid kesayangan KH. Romli Tamim (ayah KH. Musta’in) Rejoso, Jombang, Jawa Timur. Beliau dibaiat sebagai mursyid bersama Kiyai Makki Karangkates Kediri dan Kiai Bahri asal Mojokerto. Kemudian sepeninggal Kiai Musta’in (sekitar tahun 1977), beliau mengadakan kegiatan sendiri di kediamannya Sawah Pulo Surabaya.

Maka, jadilah Sawah Pulo sebagai sentra aktifitas thariqah di kota metropolis di samping Rejoso sendiri dan Cukir Jombang. Sepeninggal Kiai Utsman, tongkat estafet kemursyidan kemudian diberikan kepada putranya, Kiai Minan, sebelum akhirnya ke Kiai Asrori (konon pengalihan tugas ini berdasarkan wasiat Kiai Utsman menjelang wafatnya). Di tangan Kiai Asrori inilah jama’ah yang hadir semakin membludak. Uniknya, sebelum memegang amanah itu, Kiai Asrori memilih membuka lahan baru, yakni di kawasan Kedinding Lor yang masih berupa tambak pada waktu itu.

Dakwahnya dimulai dengan membangun masjid, secara perlahan dari uang yang berhasil dikumpulkan, sedikit demi sedikit tanah milik warga di sekitarnya ia beli, sehingga kini luasnya mencapai 2,5 hektar lebih. Dikisahkan, ada seorang tamu asal Jakarta yang cukup ternama dan kaya raya bersedia membantu pembangunan masjid dan pembebasan lahan sekaligus, tapi Kiai Asrori mencegahnya. “Terima kasih, kasihan orang lain yang mau ikutan menyumbang, pahala itu jangan diambil sendiri, lebih baik dibagi-bagi”, ujarnya.

Kini, di atas lahan seluas 2,5 hektar itu Kiai Asrori mendirikan Pondok Pesantren Al Fithrah dengan ratusan santri putra putri dari berbagai pelosok tanah air. Untuk menampungnya, pihak pesantren mendirikan beberapa bangunan lantai dua untuk asrama putra, ruang belajar mengajar, penginapan tamu, rumah induk dan asrama putri (dalam proses pembangunan) serta bangunan masjid yang cukup besar.

Itulah Kiai Asrori, keberhasilannya boleh jadi karena kepribadiannya yang moderat namun ramah, di samping kapasitas keilmuan tentunya. Murid-muridnya yang telah menyatakan baiat ke Kiai Asrori tidak lagi terbatas kepada masyarakat awam yang telah berusia lanjut saja, akan tetapi telah menembus ke kalangan remaja, eksekutif, birokrat hingga para selebritis ternama. Jama’ahnya tidak lagi terbatas kepada para pecinta thariqah sejak awal, melainkan telah melebar ke komunitas yang pada mulanya justru asing dengan thariqah.

Walaupun tak banyak diliput media massa, namanya tak asing lagi bagi masyarakat thariqah. Namun demikian, sekalipun namanya selalu dielu-elukan banyak orang, dakwahnya sangat menyejukkan hati dan selalu dinanti, Kiai Asrori tetap bersahaja dan ramah, termasuk saat menerima tamu. Beliau adalah sosok yang tidak banyak menuntut pelayanan layaknya orang besar, bahkan terkadang ia sendiri yang menyajikan suguhan untuk tamu.

Tanda tanda menjadi panutan sudah nampak sejak masa mudanya. Masa mudanya dihabiskan untuk menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kala itu Kiai Asrori muda yang badannya kurus karena banyak tirakat dan berambut panjang memiliki geng bernama “orong-orong”, bermakna binatang yang keluarnya malam hari. Jama’ahnya rata-rata anak jalanan alias berandalan yang kemudian diajak mendekatkan diri kepada Allah lewat ibadah pada malam hari. Meski masih muda, Kiai Asrori adalah tokoh yang kharismatik dan disegani berbagai pihak, termasuk para pejabat dari kalangan sipil maupun militer.

Tugas sebagai mursyid dalam usia yang masih muda ternyata bukan perkara mudah. Banyak pengikut Kiai Utsman yang menolak mengakui Kiai Asrori sebagai pengganti yang sah. Sebuah riwayat menceritakan bahwa para penolak itu, pada tanggal 16 Maret 1988 berangkat meninggalkan Surabaya menuju Kebumen untuk melakukan baiat kepada Kiai Sonhaji. Tidak diketahui dengan pasti bagaimana sikap Kiai Asrori terhadap aksi tersebut namun sejarah mencatat bahwa Kiai Arori tak surut. Ia mendirikan pesantren Al-Fithrah di Kedinding Lor, sebuah pesantren dengan sistem klasikal, yang kurikulum pendidikannya menggabungkan pengetahuan umum dan pengajian kitab kuning. Ia juga menggagas Al-Khidmah, sebuah jamaah yang sebagian anggotanya adalah pengamal tarekat Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Jamaah ini menarik karena sifatnya yang inklusif, ia tidak memihak salah satu organisasi sosial manapun.

Meski dihadiri tokoh-tokoh ormas politik dan pejabat negara, majelis-majelis yang diselenggarakan Al-Khidmah berlangsung dalam suasana murni keagamaan tanpa muatan-muatan politis yang membebani. Kiai Asrori seolah menyediakan Al-Khidmah sebagai ruang yang terbuka bagi siapa saja yang ingin menempuh perjalanan mendekat kepada Tuhan tanpa membedakan baju dan kulit luarnya. Pelan tapi pasti organisasi ini mendapatkan banyak pengikut. Saat ini diperkirakan jumlah mereka jutaan orang, tersebar luas di banyak provinsi di Indonesia, hingga Singapura dan Filipina. Dengan kesabaran dan perjuangannya yang luar biasa, Kiai Asrori terbukti mampu meneruskan kemursyidan yang ia dapat dari ayahnya. Bahkan lebih dari itu, ia berhasil mengembangkan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ke suatu posisi yang mungkin tak pernah ia bayangkan.

Kiai Asrori adalah pribadi yang istimewa. Pengetahuan agamanya dalam dan kharisma memancar dari sosoknya yang sederhana. Tutur katanya lembut namun seperti menerobos relung-relung di kedalaman hati pendengarnya. Menurut keluarga dekatnya, sewaktu muda Kiai Asrori telah menunjukkan keistimewaan-keistimewaan.

Mondhoknya tak teratur. Ia belajar di Rejoso satu tahun, di Pare satu tahun, dan di Bendo satu tahun. Di Rejoso ia malah tidak aktif mengikuti kegiatan ngaji. Ketika hal itu dilaporkan kepada pimpinan pondok, Kiai Mustain Romli, ia seperti memaklumi, “biarkan saja, anak macan akhirnya jadi macan juga.” Meskipun belajarnya tidak tertib, yang sangat mengherankan, Kiai Asrori mampu membaca dan mengajarkan kitab Ihya’ Ulum al-Din karya Al-Ghazali dengan baik. Di kalangan pesantren, kepandaian luar biasa yang diperoleh seseorang tanpa melalui proses belajar yang wajar semacam itu sering disebut ilmu ladunni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT). Adakah Kiai Asrori mendapatkan ilmu laduni sepenuhnya adalah rahasia Tuhan, wallahu a’lam. Ayahnya sendiri juga kagum atas kepintaran anaknya. Suatu ketika Kiai Utsman pernah berkata “seandainya saya bukan ayahnya, saya mau kok ngaji kepadanya.” Barangkali itulah yang mendasari Kiai Utsman untuk menunjuk Kiai Asrori (bukan kepada anak-anaknya yang lain yang lebih tua) sebagai penerus kemursyidan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah padahal saat itu Kiai Asrori masih relatif muda, 30 tahun.

Telah meninggal dunia pada hari ini 26 Sya’ban 1430 H./18 Agustus 2009 pukul 02:20 WIB, KH. ASRORI BIN UTSMAN AL-ISHAQI, Kedinding Surabaya

Beliau adalah mursyid Thoriqoh Qodiriyah & Naqsabandiyyah saat ini, semoga Allah senantiasa mengampuni semua dosanya

 

Happy Idul Adha

Allahu Akbar.. 3x
Laa Ilaha Illallohu Allohu Akbar..
Allahu Akbar Walillahilhamd..

Allahu Akbar Kabiro, Walhamdulillahi Katsiro..
Wasubhanallohi Bukrotaw Wa'ashila...
Laa ilaha Illallohu Wala Na'budu Illa Iyyahu ..
Muhlishina Lahuddin, Walaw Karihal Kafirun..
Laa ilahaillahu Wahdah, Shodaqo Wa'dah..
Wanashoro 'abdah, Wa'a'aza Jundahu Wahazamal Ahzaba Wahdah..
Laa ilaha Illallohu Wallohu Akbar..
Allohu Akbar Walillahilhamd...



llah Maha Besar.. Allah Maha Besar.. Allah Maha Besar..
Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar..
Allah Maha Besar.. Dan segala Puji Hanya kepada Allah...
Allah Maha besar dengan segala kebesaran-Nya, Segala Pujian Sebanyak-banyaknya bagi-Nya..
Tiada Tuhan selain Allah, dan Tidaklah kami Sembah kecuali Dia..
Kami memurnikan Agama Islam, Meskipun orang kafir membencinya.
Tidak ada Tuhan selain Allah dengan ke-esaan-Nya.. Dia Maha menepati janji..
Dan menolong hamba-hamba-Nya, Memuliakan bala tentara-Nya dan menghancurkan musuh-musuh dengan ke-Esaan-nya..
Tiada Tuhan selain Allah.. Dan Allah Maha Besar..
Allah Maha Besar dan Segala Puji hanya bagi Allah..



tak terasa sudah memasuki tgl 10 Dzulhijah 1435 H
huft.... biar temen kost yang lain pada mudik, aku setia menjadi penghuni kost
cuma bertiga, dan saat itu dalam keadaan badan kurang fit ya salam
hihi.... lemes, sedih, tapi juga bahagia
why? coz Alloh still giving me an oxygen (haha gak nyambung)

gema takbir menyeru di penjuru kota Gudeg
deg deg
hati ikut berdetak kencang
bibir ikut menyuarakan Takbir
air mata serasa membasahi pipi rindu akan keluarga di rumah

di tipi tipi ada yg solat tgl 4, ada yang sholat tgl 5
bgiku itu tak masalah, yang penting sama" tanggal 10 Dzulhijah (menurut kita. hihi)
sepi merayapi hati
akhirnya ku dendangkan sambil mendengarkan sholawat dari Beliau Habib Syech bin AA
dengan algu turi putih, dsb
hihi...ajiib tenan

minggu pagi, seperti biasa bangun di kala kebanyakan orang masih tidur, mandi lalu kutunaiakan beberapa rokaat sambil bermunajat kepadanya
ku lantunkan beberapa lembar ayatNya sambil menunggu subuh
jam 05.30 WIB bersama teman kost, berjalan menuju masjid uin sunan kalijaga untuk menunaikan sholat
ah, indah rasanya
melihat dan bertemu saudara" kita sholat bersama
bayangkan yang di Gaza sana?
bagaimana mereka sholat?
nyamankah mereka sholat?
alloh Robb
al fatihah untuk penduduk sama

selamat hari raya kurban
jangan kurban perasaan lho yea..hehe
salam oase dunia
salam senyum dan salam manis dariku
uhuk uhuk ^^
 

Penghujung September

september ceria, september istimewa
itulah kata yang pas untuk melukiskan warna bulan september tahun ini
entah harus bahagia, sedih, atau bahkan kecewa
bulan september adalah hari lahir serta berkurangnya masa hidup di dunia bagiku dan Habibana panglima sholawat Indonesia
melalui beliau, aku lebih mencintai ulama dan insyaalloh kekasihNya
tepat tanggal 20 September beliau merayakan hari lahirnya
walaupun aku belum pernah silaturohim ke rumah beliau, entah mengapa setiap memandang wajah beliau, rasanya ayem dan tentrem
bayangkan saja, wajah beliau sangat bercahaya, apalagi kekasihNya?

beranjak ke tanggal selanjutnya adalah tanggal 24
yea, dilahirkan di sebuah kota kecil di Jawa Tengah
aku dilahirkan hingga usiaku 21 tahun
banyak pertanyaan yang menghantui, apa yang sudah aku lakukan selama 21 tahun itu?
tidak kah aku pernah membahagiakan orang-orang yang ku sayangi?
apa yang sudah ku perbuat selama kurun waktu itu?
suka duka manis asam sudah kujalani walaupun belum seberapa banyak
hari lahir kemarin, seperti biasa keluarga mendoakan yang etrbaik untukku, meskipun tiap saat ibu selalu mendoakanku
dari sahabat, teman pun mendoakanku
cerianya september belum berakhir, atas solidaritas temen-temen, mereka menuangkan air ke badanku
 oh Robb, sungguh menjadi hari yang menyenangkan (semoga bukan yg terakhir kali)
dapat kado dari orang yaang ku sayang\adalah hal yang paling membahagiakan

sejatinya, bukan kado atau kejutan yang ku harapkan
ingin menjadi pribadi yang lebih matang, menata hati untuk masa depan
berpikir kembali kenapa september? apa iya septeber?
ah, banyak cerita di bulan spetember
kkn, ppl, ikut menyemarakkan september

bismillah

 

Kutipan Cinta



“Aku tidak pernah keberatan menunggu siapa pun berapa lama pun selama aku mencintainya" (dalam cerpen Linguae, Linguae, Gramedia, 2007)”
“mencintaimu adalah bahagia & sedih;
bahagia karna memilikimu dalam kalbu;
sedih karena kita sering berpisah”
― W.S. Rendra“Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya.”
― Dee, Rectoverso “Maafkan
Jika senyumku
Tersembunyi dibalik air mata
Dan kata-kata mesra
Menjadi tanpa daya
Karena terperangkap
Dalam Prasangka

Tapi Tuhan Tahu..
Cinta yang kupunya
Lebih berwarna
Dari yang kau kira”
― Asma Nadia
Mencintai angin harus menjadi siut...
Mencintai air harus menjadi ricik...
Mencintai gunung harus menjadi terjal...
Mencintai api harus menjadi jilat...
Mencintai cakrawala harus menebas jarak...

MencintaiMu harus menjadi aku”
― Sapardi Djoko Damono“Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar”
― Chairil Anwar“Cinta dan memberi adalah dua kata sejati dalam kamus nurani”
― Helvy Tiana RosaDalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Aku mencintaimu..

Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu

(1989)”
― Sapardi Djoko Damono
 

Email ini Sbg Penggugah Semangat

send from: Ust. Awan (2 years ago)
Alloh SWT memberi Sahabat Arum dua modal utama yang dengan dua modal tersebut, cukuplah bagi Sahabat Arum untuk menjadi alat dalam menghadapi segala persoalan hidup di dunia ini. Dua modal itu sengaja Alloh berikan memang untuk bekal Sahabat Arum hidup di dunia yang penuh dengan berbagai tantangan, ujian/cobaan serta persoalan-persoalan yang menghampiri setiap saat.
 
Orang yang mampu menggunakan dua modal utama tersebut, tentulah ia akan survive melalui kehidupan di dunia ini. Sebaliknya, keputus-asaan, frustasi, gila hingga bunuh diri adalah dampak dari manusia yang tidak mengenali dan tidak mengetahui atau sama sekali tidak mengerti bagaimana menggunakan dua modal tersebut.
 
Ya, modal tersebut adalah HATI & OTAK.
Di dalam hati harus dipenuhi dengan iman. Karena imanlah yang membuat Sahabat Arum mampu berdiri tegak. Karena iman yang tangguhlah seseorang berani berbuat apapun. Dan karena imanlah, seseorang meyakini apa yang di luar nalarnya.

Begitu pula dengan otak. Otak kita harus terisi pula dengan akal yang cerdas. Akal adalah alat untuk mencari jalan di setiap kerumitan. Akal adalah kunci jawaban di setiap persoalan. Karena itu, Sahabat Arum hanya butuh waktu beberapa saat saja untuk mefokuskan pikirannya hingga akalnya maksimal dan menghasilkan ide-ide brilliant untuk menyelesaikan kesempitan dan persoalan hidupnya.
 
Saya sering memotivasi teman-teman atau peserta training bahwa sepelik apa pun persoalan dalam hidup kita, kita cukup mengalokasikan waktu 1 atau 2 jam untuk berpikir (tafakkur). Lalu otak pun dimaksimalkan untuk berpikir mencari ide penyelesaian masalah. Iman pun dikuatkan tentang keyakinan pada Alloh SWT.

 

Meretas Harapan

Meretas harapan, meraih sebuah mimpi
akan ku jual mimpi-mimpiku ke orang banyak
akan ku gadaikan mimpi-mimpiku ke luaran sana
meretas harapan demi sesuap nasi dan senyum ceria di wajah orang tercinta
adakah yang salah dengan diri kecil ini?
entah bodoh atau apa
aku mencoba dungu dari berbagai cibiran orang
aku mencoba menutup mata dari berbagai perlakuan tak mengenakkan
ku tepis semua anggapan palsu dari para mulut pembuai
ku enyahkan mereka dalam pikiran dan jiwa ini
enyahlah enyahlah
meretas harapan dengan jemari kecil ini
aku tak ingin dianggap kecil
aku ingin menjadi orang besar
mulailah aku membaca buku-buku dan karya dari para pembesar
ku ayunkan harapan dan mimpiku agar sampai ke tanganNya
kuciptakan sebuah pesona nan wangi agar nanti tak bau karena penyakit hati jika aku gagal
aku tak takut gagal
karena aku lebih takut jika belum pernah mencoba
katanya, keberhasilan itu tak kan berhasil tanpa peluh dan duka
iya, 1000% aku setuju
bahkan semua raga dan jiwaku mengiyakannya
meretas harapan Ya Ilahi
duhai sang pemilik Harapan Sejati
kokohkan mimpiku dalam genggamanku
aamiin
#perpus, 18/09/14 1:50 pm
 

Persamaan Reaksi Kimia



·         Persamaan reaksi kimia
Persamaan reaksi menggambarkan rumus kimia zat-zat pereaksi dan zat-zat hasil produk yang dibatasi dengan tanda panah. Misalnya:
6CO2 (g) + 6H2O (l)  C6H12O6 (aq) + 3O2 (g)
Setelah memahami pengertian persamaan kimia di atas, perhatikan huruf-huruf kecil yang tertulis di belakang zat pereaksi dan hasil reaksi. Huruf-huruf itu menunjukkan wujud yang terlibat dalam persamaan reaksi, yaitu:
(s)  : solid (padat)                          (aq)      : aquouse (larut dalam air)
(l)   : liquid (cair)                            (g)       : gas
Berikut ini ada beberapa syarat-syarat penyetaraan reaksi kimia, antara lain:
1.      Pereaksi dan hasil reaksi dinyatakan dengan rumus kimia yang benar.
2.      Reaksi harus memenuhi hukum kekekalan massa, yang ditunjukkan oleh kesamaan jumlah atom-atom sebelum reaksi dengan jumlah atom sesudah reaksi.
3.      Wujud zat-zat yang terlibat reaksi harus dinyatakan dalam tanda kurung setelah penulisan zat-zat tersebut.
Salah satu tujuan pentingnya persamaan reaksi dalam merencanakan percobaan adalah persamaan reaksi memungkinkan kita menetapkan hubungan kuantitatif yang terjadi di antara reaktan dan hasil reaksi.
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Seberkas Cahaya - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger